Monday, March 10, 2008
Saya juga mengamati bahwa banyak dari orang yang pada saat ini sedang berada pada usia kerjanya, tidak atau kurang mempersiapkan masa pensiunnya. Tidak seperti di Amerika Serikat dan Singapura, dimana usia adalah 65 tahun, di Indonesia seseorang mencapai pensiun pada usia 55 tahun. Sepuluh tahun lebih cepat. Dengan asumsi usia bila kita mencapai 75 tahun saja, maka setelah pensiun, masih ada waktu hidup selama 20 tahun. Suatu masa yang tidak pendek. Survei di Amerika menunjukkan bahwa hanya dua dari 100 manula (di atas 65 tahun) yang bisa hidup mandiri. Sisanya harus bekerja atau hidup dari tunjuangan, baik dari keluarga mau pun pemerintah.
Oleh karena itu timbul lah pertanyaan: apakah saya bisa pensiun dengan tenang dan kalau bisa, bagaimana caranya?
Pada tahun 1892, seseorang bernama Stanley Lebergott melakukan kajian di Amerika dan menemukan bahwa dari 4,047 jutawan Amerika, 84% di antaranya adalah orang kaya baru (nouveau riche), mencapai predikat jutawan tanpa warisan sama sekali.
Sekitar seratus tahun kemudian, Thomas Stanely, Ph.D melakukan penelitian pada tahun 1996 dan menemukan fakta bahwa hanya 3,5 juta dari 100 juta rumah tangga di Amerika yang berpredikat kaya dimana 80%-nya adalah one-generation self-made millionaires.
Banyak orang, yang merasa anti atau memiliki sentimen negatif mengenai kata kaya. Dalam bahasa Inggris, selain rich, ada kata lain yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia namun memiliki pengertian yang sama dengan rich, yaitu: affluentdan wealthy. Jadi, setiap kali saya menyebutkan kata kaya, saya juga merujuk kepada kata affluent dan wealthy.
Jadi, mengapa kita harus kaya? Sederhana: Untuk bisa pensiun dengan penuh gaya, Anda harus kaya Saya tidak tahu apa definisi seseorang tentang menjadi kaya, tetapi untuk bisa pensiun dengan penuh gaya (jalan-jalan keliling dunia, mengunjungi cucu, golfing, tanpa menerima bantuan keuangan dari siapa pun) saya pikir orang orang tersebut harus memiliki sejumlah kekayaan yang cukup.
Kaya, bisa berarti tidak memilik hutang, punya kesehatan yang baik, punya teman dan keluarga yang memperhatikan. Tetapi dari sisi finansial, kekayaan jelas diukur dari angka rupiah yang dimiliki. Thomas Stanley sendiri mendefinisikan being affluent --- secara kualitatif --- adalah kemampuan untuk hidup lebih dari 10 tahun, tanpa bekerja sama sekali.
Bila Anda seperti saya, berumur di awal 30, yang artinya memilik rentang waktu 20 tahun untuk mempersiapkan pensiun, maka investasi bisa merupakan jawabannya. Sebenarnya, tidak harus berinvestasi, tetapi ini bisa menjadi salah satu caranya. Adalah suatu hal yang masuk akal bahwa Thomas Stanley menemukan korelasi positif antara menabung dan berinvestasi dengan kekayaan.
Sama seperti Stanley Lebergott dan Thomas Stanley, saya percaya bahwa pada era pada saat ini, tidak seperti pada era kerajaan dulu, adalah mungkin bagi orang yang biasa-biasa saja untuk membangun sebuah kekayaan dalam satu generasi. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan fundamental dari investasi, faktor resiko yang ada dan menjelaskan secara singkat bagaimana cara berinvestasi. Saya menyadari bahwa data yang saya rujuk kebanyakan bukan dari Indonesia, namun saya percaya bahwa dalam investasi ada hukum universal, sama seperti gravitasi; baik di Inggris mau pun di Indonesia, Sir Isaac Newton akan melihat apel jatuh ke bawah.
Saya berharap bahwa tulisan ini memberikan pencerahan bagi pembaca untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut mengenai dunia investasi.
Perkenalkan: Fiat Money
Seorang ahli sejarah pernah mengatakan bahwa hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar darinya. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia finansial. Pada tahun 1918, Jerman menelan pil pahit, yaitu kalah dalam PD 1 dan diwajibkan untuk membayar hutangnya. Dalam tekanan untuk membayar hutang, Pemerintah Jerman mencetak uang sebanyak-banyaknya sehingga sesaat sebelum PD 2, mata uang Jerman turun drastis, dari Mark 4 per US Dollar, menjadi Mark
4.000.000.000.000 per US Dollar (Empat Triliun Mark per US Dollar)..!
Di Koran Tempo, 14 November 2005, ada artikel berjudul: “Ingin Sejahtera? Menabunglah”. Sebuah kepercayaan konvensional, yang sayangnya adalah ilusi. Mengapa? Jawabannya adalah Fiat Money. Bila dulu setiap uang yang dicetak selalu dicadangkan sejumlah emas (disebut: gold standard), namun sejak tahun 1970-an, hal ini sudah tidak ada lagi. Fiat Money adalah uang yang diterbitkan pemerintah sebagai alat pembayaran yang sah, dimana nilainya semata mengacu kepada kesepakatan atau hukum, bukan atas nilai sesungguhnya (seperti yang pernah terjadi pada uang berbasis logam), juga bukan atas cadangan logam mulia tertentu. Terbitnya Fiat Money mendorong apa yang dikenal dengan inflasi.
Sejak tahun 1949 hingga 1995, Deutsche Mark, salah satu mata uang terkuat di Eropa, telah kehilangan 71% dari nilainya. Sedangkan US$1 pada tahun 1801, setara dengan US$0.07 (7 sen) pada tahun 2003. Hal yang sama juga terjadi pada rupiah.
Menabung adalah landasan untuk menjadi kaya, namun tidak bisa membuat orang menjadi kaya
Menaruh uang di bank hanyalah untuk mempertahankan kekayaan (bila Anda sudah kaya) bukan untuk menjadi kaya. Dengan menabung, kita mendapatkan risk-free rate, yaitu tingkat pengembalian yang dikatakan tidak mengandung resiko. Saya menekankan kata ‘dikatakan’, karena itulah anggapan konvensional. Tidak mengandung resiko, karena tingkat pengembalian uang sudah dipastikan.
Bagaimana bank Anda bisa memberikan 6%? Tentunya, dengan mendapatkan return melebihi 6%. Adalah wajar bahwa untuk mendapatkan return melebihi apa yang dijanjikan kepada nasabahnya, bank menanggung resiko. Dan seperti conventional wisdom lainnya: ‘Saya tidak mau menanggung resiko dengan uang saya’.
Namun, apa yang ditemukan oleh Thomas Stanley? There is a strong correlation between one’s willingness to take financial risk and one’s level of wealth (The Millionaire Mind karangan Thomas Stanley, Ph.D. halaman 12. Huruf miring ditambahkan untuk penekanan.)
Adalah tujuan saya untuk menunjukkan apa itu resiko dan bagaimana cara untuk mengaturnya dan bukannya menghindarinya.
Apa yang Seharusnya Ditakutkan
Jadi, apa yang seharusnya ditakutkan? Bukannya tidak punya uang (yang biasanya ditabung), tetapi tidak memiliki daya beli (purchasing power) yang cukup untuk menopang hidup.
Di bawah ini adalah tabel dari biaya hidup dengan asumsi inflasi sebesar 10% / tahun.
Tabel 1 Biaya Hidup – Disesuaikan Inflasi Usia Biaya Hidup per bulan
(Th) (Rp)
30 5.000.000
35 8.052.550
40 12.978.712
45 20.886.241
50 33.637.500
55 54.173.530
60 87.247.011
65 140.512.184
70 226.296.278
75 364.452.418
80 586.954.264
Andaikan pada saat ini, Anda adalah seseorang yang berusia 30 tahun, dan pada saat ini memerlukan Rp 5 juta per bulan untuk menunjang hidupnya, maka Anda memerlukan Rp 54 juta per bulan pada saat pensiun di usia 55 tahun. Dan ingat, bahwa ini hanya sekedar untuk menyamakan daya beli pada saat Anda berusia 30 tahun, bukan untuk melebihinya...!
Yang menambah payah adalah bahwa pada saat berusia 30-40 tahun, kita tidak merasa perlu untuk mempersiapkan hari tua; merasa bahwa penghasilan dan uangnya akan terus bisa diterima dan bertambah.
Pada saat ini, hampir tidak ada perusahaan yang menawarkan uang pensiun dan kalau pun ada, saya ragu bahwa jumlahnya mecukupi untuk penghidupan yang layak. Lagipula, bergantung kepada orang lain atau institusi lain untuk menopang hidup kita adalah suatu hal yang sangat tidak bijaksana.
Di Mana Tempat Berinvestasi
Pada saat ini ada banyak cara untuk berinvestasi, ada yang mengatakan emas atau logam mulia lain, ada yang mengatakan surat hutang pemerintah, juga ada yang mengatakan pasar saham. Mana yang paling baik?
hutang yang diterbitkan pemerintah, disebut Treasury Bill dan Treasury Bond3 di Amerika, sedangkan di Indonesia disebut Surat Utang Negara (SUN), biasa disebut sebagai investasi fixed-income securities. Disebut fixed karena tingkat pengembalian telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan investasi di saham (sering juga disebut equity) tidak memiliki kepastian akan tingkat pengembalian. Hal inilah yang menyebabkan investasi di dalam instrumen surat hutang pemerintah disebut risk-free4.
Adalah menarik bahwa 95% dari jutawan Amerika masuk ke dalam pasar saham sebagai tempat berinvestasi. Mungkin itu bisa menjelaskan sesuatu. berinvestasi di dalam pasar saham berbahaya dan memiliki resiko tinggi dan seharusnya dihindari? Bukankah pola investasi di dalam pasar saham bersifat random walk? Dua buah penelitian yang dilakukan oleh James O’Shaughnessy dan Jeremy Siegel menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, sesungguhnya pasar saham memiliki pola yang baku.
Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Siegel menemukan bahwa real return (hasil yang didapat setelah inflasi) dari pasar saham jauh melebihi surat hutang, emas, dan tidak diragukan lagi: bila kita menyimpan dalam bentuk uang kontan di dalam laci.
Di gambarkan bahwa dollar jatuh setelah selama ±150 tahun stabil. Dalam kurun waktu 40-50 tahun terakhir ini lah terjadi penurunan yang tajam atas mata uang dollar, yaitu setelah dicabutnya gold standard. Juga bila kita berinvestasi pada instrumen surat hutang.
Bagaimana hal ini dapat terjadi? Harga saham berdasarkan aset-aset riil seperti: properti, mesin, pabrik dan ide (hak paten atau ciptaan) yang cenderung untuk mengalami apresiasi, seiring dengan terjadinya inflasi. Sedangkan surat hutang didasarkan atas janji yield yang dibayarkan dalam bentuk uang.
Mungkin ada yang mengatakan bahwa tren tersebut hanya terjadi di Amerika saja. Namun, saya memiliki keyakinan bahwa mengenai investasi dan finansial, berlaku hukum yang bersifat universal, sama seperti grafitasi. Tahun 2005 ini adalah tahun yang berharga dimana pasar saham Indonesia berkali-kali didera oleh sentimen negatif, namun memperlihatkan resilency yang kokoh (lihat gambar 2).
Dari gambar 1, terlihat adanya kecenderungan mean reversion, yaitu suatu kejadian yang bila diamati dalam jangka waktu yang pendek tampak berfluktuasi namun dalam jangka waktu yang lebih panjang, tampak lebih stabil.
Sebagai contoh adalah curah hujan, yang tampak bervariasi dari hari-ke-hari, namun tampak lebih terpola bila dilihat dari tahun-ke-
tahun.
Hal yang sama juga terjadi dengan pasar saham. Dari Gambar 1 terlihat bahwa pergerakan harga saham dengan jelas mengikuti garis tren. Dan hal ini terjadi walaupun menghadapi Perang Dunia I , The Great Depression 1929, Perang Dunia 2, bearish pada 1970-an, inflasi besar-besaran dan crash tahun 1987. Reversion pun berlaku di bursa saham Indonesia. Ini adalah suatu hal yang sederhana dan logis.
Dan mean reversion ini, sesungguhnya lah yang harus diperhatikan oleh investor mau pun calon investor. Resiko dalam berinvestasi (yang diukur dari standar deviasi) memperlihatkan hal yang spektakuler, dimana resiko berinvestasi di dalam pasar saham, lebih kecil daripada fixed-income securities seiring dengan lamanya holding period.
Standar deviasi adalah pengukuran atas kecenderungan bagi sebuah varibel nilai untuk mengikuti perkembangan tren line-nya. Jadi tidak mengherankan bahwa dalam jangka waktu yang panjang, investasi di dalam pasar saham jauh lebih bak daripada bentuk investasi reksadana pendapatan tetap.
Sama seperti Siegel, saya memiliki keyakinan bahwa sama seperti inflasi berlaku atas rupiah, mean fixed-income securities atau pun instrumen lainnya.
Apa yang terjadi pada reksa dana pendapatan tetap, yang melakukan investasi dalam fixed-income asset pada hari-hari ini, dapat menjadi pelajaran bagi para investor mau pun calon investor. Sebagai contoh, saya mengikuti perkembangan sebuah unit linked dari sebuah perusahaan asuransi, yang pertama dalam bentuk saham, yang kedua diinvestasikan dalam bentuk fixed-income securities.
Hal ini mendorong keyakinan saya bahwa dalam jangka waktu yang lebih panjang lagi, investasi di dalam pasar saham akan memberikan return yang lebih besar daripada instrumen finansial lainnya. Extra return yang didapat oleh investor dalam berinvestasi di dalam pasar saham atas fixed-income disebut equity riskpremium.
Dalam rentang waktu 200 tahun, Siegel menemukan bahwa equity risk premium di Amerika adalah 3%.
Reksa Dana Berbasis Saham Sebagai Sarana
Untuk dapat berinvestasi, langkah pertama adalah: menabung. Saya tahu dan memaklumi bahwa dengan naiknya BBM dan tingginya tingat inflasi pada tahun ini akan mengurangi kemampuan menabung.
Tapi, paksakanlah untukmenabung. Satu rupiah yang ditabung dan diinvestasikan akan menjamin hari depan Anda. Buatlah target untuk menabung, setiap menerima gaji, sisihkanlah terlebih dahulu untuk tabungan, sisanya untuk konsumsi.
Dari tabungan yang ada, kemudian investasikanlah. Karena bagi kebanyakan orang tidak percaya akan kemampuan mereka untuk melakukan investasi, maka salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan membeli Reksa Dana. Reksa dana adalah kumpulan dana yang dikelola secara professional oleh Manajer Investasi (Fund Manager).
Ada beberapa keuntungan dalam berinvestasi instrumen ini, yaitu:
(a) Memungkinkan untuk memulai investasi dengan dana yang kecil. Pada saat ini, seseorang dengan dana Rp. 250.000 sudah dapat membeli reksa dana. Sementara itu untuk membeli saham di Bursa Efek Jakarta, diharuskan untuk membeli minimal 500 lembar (setara dengan 1 lot) saham dan kelipatannya.
(b) Biaya masuk (entry fee) yang kecil, rata-rata kurang dari 1%. Sebagai perbandingan, ada
sebuah perusahaan asuransi menawarkan investment account dan mengenakan entry fee sebesar 5%.
Pada saat ini, ada beberapa jenis reksa dana yang ditawarkan, yaitu:
1. Reksa Dana Saham.
2. Reksa Dana Pendapatan Tetap.
3. Reksa Dana Terproteksi.
4. Reksa Dana Kombinasi.
Untuk mendapatkan return yang tinggi, Reksa Dana Saham adalah pilihan yang paling tepat. Saya melakukan pegamatan atas dua reksa dana yang dihubungkan dengan saham dan inilah hasilnya pada hari terbaik dan terburuknya.
Tabel Return Reksa Dana Saham
RS1 RS2 IHSG
Hari Terbaik 34,50% 29,85% 20,21%
Hari Terburuk 0,16% -0,81% -0,69%
Volatilitas (naik-turunnya harga) adalah hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi produk Reksa Dana Saham. Untuk dapat sedikit meredakan volatilitas ini dapat melakukan kombinasi dengan produk Reksa Dana Pendapatan Tetap. Bagaimana dengan Reksa Dana Terprokteksi? Karena reksa dana jenis ini diinvestasikan kembali ke dalam SUN, saya memperkirakan bahwa return dari reksa dana jenis ini akan di bawah saham. Penggunaan Reksa Dana dan Reksa Dana Terproteksi adalah untuk mengurangi volatilitas investasi.
Untuk bisa pensiun kaya, adalah penting untuk mendapatkan return yang lebih tinggi daripada inflasi.
Jenis investasi ini mirip dengan Guaranteed Investment Contract (GIC), biasa disebut juga stable fund, dimana seseorang mendapatkan kepastian pengembalian uang pokok beserta sejumlah bunga. Namun seperti yang ditemukan oleh O’Shaughnessy, investasi dalam GIC memberikan pengembalian yang kecil dibandingkan saham.
Bukan kehilangan uang pokok yang kita kuatirkan, tetapi kehilangan daya beli lah.
Compound return 17% per tahun berarti aset akan bertambah 2 kali lipat setiap ±4 tahun sekali. Jika inflasi adalah 10% per tahun, maka kebutuhan akan berlipat 2 setiap ±8 tahun sekali. Dengan demikian pertumbuhan aset finansial akan melebihi pertumbuhan kebutuhan hidup.
Kemudian, rentang waktu investasi adalah hal yang perlu diperhatikan juga. Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang lama… Saya yakin, bahwa masih banyak dari kita yang ingat pada waktu kita SMP atau bahkan SD. Yang perlu dikuatirkan adalah sepuluh tahun ke depan..! Di mana harga-harga akan naik, oleh karena inflasi.
Tantangan Dalam Berinvestasi
Saya tidak bisa menyangkal sulitnya untuk menjaga emosi pada saat investasi Anda mengalami penurunan. Untuk itu, visi jangka panjang, mendidik dan memotivasi diri sendiri perlu untuk dipupuk setiap saat. Pada saat ini saya menikmati dan mengkoleksi setiap berita yang mengandung sentimen negatif atas pasar saham. Sembilan puluh persen tantangan dalam berinvestasi adalah how to stay in the market.
Alasan mengapa orang banyak kehilangan uang di dalam pasar saham, adalah karena mereka mencoba masuk ke pasar pada saat harga rendah dan ingin keluar pada saat harga tinggi, untuk mendapatkan capital gain. Komitmen untuk berinvestasi long-run adalah esensial.
Tabel Berbagai Berita Tentang Saham di Media Massa
3 Des 04 IHSG 1.000 Gagal Bertahan
10 Jan 05 …menjatuhkan IHSG ke level 750 di akhir tahun 2005*
19 April 05 IHSG dan rupiah turun tajam
12 Juni 05 Redemption reksa dana tak terbendung
27 Juni 05 Bursa Saham Masih Labil
6 Juli 05 Depresiasi rupiah koreksi indeks saham BEJ
19 Agust 05 Indeks BEJ terus tertekan
30 Agust 05 Kurs Rupiah dan Saham Jatuh
Sumber : Artikel oleh Ferry Latuhihin, Chief Economist BII di Koran Kompas
Sementara itu, para jutawan Amerika sebagaimana ditemukan oleh Thomas Stanley bukanlah active trading, seperti yang diperkirakan orang. Mereka tetap berada di dalam pasar, walau pun pasar sedang turun…
Saya juga melihat bahwa banyak orang yang memperlakukan Reksa Dana Saham seperti saham itu sendiri: masuk pada saat harga turun dan ingin keluar pada saat harga tinggi.
Orang-orang ini mencoba melakukan timing atas pasar. Sebuah penelitian yang menarik, dilakukan oleh Robert Goodman, mencoba melihat atas tiga orang.
Yang pertama, selalu beruntung dengan membeli saham pada harga paling rendah, setiap tahunnya.
Yang kedua, selalu membeli pada saat harga paling tinggi, sedangkan yang ketiga, tidak pernah melakukan timing, hanya membeli saja setiap tahunnya. Dimulai pada tahun 1960, tiap orang membeli dengan initial fund US$3.000.
Ini hasil yang didapat pada tahun 1996:
Orang Pertama : US$1.569.519.
Orang Kedua : US$1.318.300.
Orang Ketiga : US$1.418.037.
Dengan usaha yang demikian besar untuk melakukan timing, ternyata perbedaan yang terjadi dengan orang yang tidak melakukan, hanya sedikit saja. Tetap berada di dalam pasar lah, kuncinya..!
Begitu pentingnya untuk tetap berada di dalam pasar, hingga Jeremy Siegel dengan tegas mengatakan :
There’s never been a 20-year period when an investement in stocks failed to make money
Hal itu adalah hasil observasi selama lebih dari 200 tahun.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa investasi dalam saham memiliki lindung nilai (hedges).
Saya adalah contoh yang mengalami kerugian pada saat pasar saham jatuh pada tahun 1998. Jika saya bertahan (pada kenyataannya saya keluar), maka saya telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan besar pada tahun 2003/2004, pada saat pasar bullish. Saya sendiri tidak akan pernah melakukan investasi kembali ke pasar saham tanpa adanya pengetahuan yang cukup dari buku-buku yang saya pelajari. Dan pada saat ini saya masuk ke pasar menggunakan instrumen Reksa Dana Saham.
Mandelbrot menemukan bahwa passive investing, yaitu membeli sejumlah equity dan membiarkannya untuk waktu yang cukup lama, jauh lebih menguntungkan daripada aktif melakukan pembelian setiap harinya.
Saya percaya bahwa Reksa Dana Saham adalah wujud dari passive investing. Secara alamiah, kita melihat bahwa emas, minyak bumi terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu di bumi ini.
Demikian juga pada saham. Keuntungan di dalam pasar saham akan didapat dari terjadinya pelonjakan-pelonjakan harga yang –-- sayangnya–-- kita tidak tahu kapan.
Studi oleh Ibbotson Associates menemukan keyataan bahwa US$1 yang diinvestasikan ke dalam pasar saham, akan bernilai US$1.114 pada akhir 1995.
Tapi kalau kita kehilangan 35 bulan terbaik selama 69 tahun rentang waktu investasi ini, uang Anda hanya menjadi US$10,16. Universitas Michigan juga menemukan hal yang sama. Hasil pengamatan atas 7.802 trading days, periode 1963 – 1993, investor yang menginvestasikan US$1, dan tetap selalu berada di dalam pasar menemukan investasinya menjadi US$24,30. Sedangkan investor yang kehilangan 90 hari terbaik (setara dengan 1,1% dari seluruh trading days), hanya akan mendapatkan US$2,10. Jadi, sekali lagi, bertahanlah di dalam pasar.
Hal ini juga sejalan dengan apa yang ditemukan oleh Siegel. Seseorang yang melakukan investasi sebesar US$1.000 pada tahun 1929, yaitu pada saat pasar jatuh dan tetap berada di dalam pasar & melakukan reinvestasi dividen, mendapatkan US$4.440 pada tahun 1954.
Sedangkan bila pasar tidak mengalami crash, orang tersebut hanya mendapatkan US$2.720. Jadi, jatuhnya pasar dapat dianggap seperti filter bagi orang-orang yang memiliki visi jangka panjang.
Fundamental Investasi
Inilah yang sepatutnya dipahami mengenai investasi:
(1) Saham sebagai tempat investasi yang dapat memberikan return yang kompetitif. Mendapatkan return yang lebih besar adalah esensial dalam berinvestasi. Anda bisa membeli Reksa Dana yang memiliki Indeks, atau pun sekedar diinvestasikan ke pasar saham
(2) Komitmen untuk jangka panjang. Terimalah kenyataan bahwa dalam jagka pendek pasar akan volatil dan tetap lah di sana.
(3) Mulailah pada usia semuda mungkin.
(4) Aturlah portfolio Anda, sesuai dengan kemampuan mental Anda untuk menghadapi volatilitas pasar.
(5) Teruslah belajar untuk semakin memahami dunia investasi.
Penutup
Mulailah menabung dan menabung dan menabung dan menabung lagi. Kemudian investasi, investasi dan investasi. Sebagaimana Thomas Stanley menemukan korelasi yang positif antara menabung, berinvestasi dan kekayaan.
Dalam waktu 20 tahun dari sekarang, Anda akan mendapatkan keuntungan yang jauh melebihi apa yang Anda bayangkan.
Koran Kompas, 13 November 2005 menyajikan berita mengenai seorang wanita berusia 27 tahun yang menghabiskan Rp. 150.000 per hari ke café, belanja dan lainnya sebagai pelampiasan atas stres di kantor. Jika dia mengetahui mengenai manfaat berinvestasi dan hanya menghabiskan Rp. 50.000 kemudian menyimpan Rp. 100.000 per hari. Dalam waktu setahun dia bisa mengumpulkan lebih dari Rp. 35.000.000. Tiga tahun kemudian, pada usia 30, dia memiliki lebih dari Rp. 100 juta. Bila ia menginvestasikan Rp 100 juta dan membiarkannya selama 20 tahun. Dengan asumsi mendapatkan annual return sebesar 15.5% per tahun, maka uang tersebut akan menjadi lebih dari Rp 1,7 Miliar! (Sebaliknya, dengan menabung, dia tidak akan pernah bisa mengumpulkan sebanyak ini seumur hidupnya).
Dia bisa pensiun pada usia 50 tahun, membeli tiket first class dan terbang ke tempat pariwisata yang eksotik, atau sekedar membeli mobil, atau … memberikan sebagian kekayaannya kepada yayasan amal favoritnya.
Semakin hari, pensiun semakin dekat. Mulailah menabung, jangan menunggu hingga tua. Mulai jugalah berinvestasi, dan seriuslah mempelajari berbagai tawaran Reksa Dana. Bila perlu ujilah terlebih dahulu bagaimana mereka mengelola reksa dananya. Mintalah performansi reksa dana dalam waktu 5, atau bahkan 10 tahun terakhir ini.
Bandingkan dengan pergerakan inflasi dan Indeks Harga Saham Gabungan. Karena tidak semua Reksa Dana Saham yang ada dapat tumbuh di atas IHSG.
Gol kita adalah mendapat return yang mengalahkan pasar, bukan sekedar mengekor pasar. Berbincang-bincang lah dengan Fund Manager reksa dana tersebut dan mintalah kejelasan apa strategi yang dilakukan dalam me-manage dananya. Bila masih ragu, mulailah dengan sejumlah dana yang tidak banyak, kemudian ikutilah feeling dari pasar. Karena, selama Anda masih berada di ‘luar’ pasar, Anda tidak akan pernah merasakan ritmenya.
Pelajari buku-buku mengenai investasi, bergaullah dengan investor lainnya. Bila perlu, diskusikan juga dengan Fund Manager bagaimana cara mengurangi volatilitas investasi Anda.
Setelah rasa percaya diri mulai tumbuh, mulai lah menambah jumlah investasi Anda secara perlahan, sesuai dengan kemampuan. Buatlah observasi sendiri atas pertumbuhan investasi Anda. Dengan melakukan ini, saya percaya Anda akan memiliki masa depan yang sangat baik, pesiun dengan tenang dan nyaman.
Selamat memulai!
Referensi
1. How to Retire Rich, James P. O’Shaughnessy, Broadway Books, 1998.
2. How Gurus Get Risk All Wrong, Benoit Mandelbrot, et al, Fortune Magazine, July 11, 2005.
3. TheMillionaire Next Door, Thomas Stanley, et al, Long Street Press, 1996.
4.The Sovereign Individual,James Dale Davidson, et al, Simon & Schuster, 1997.
5. The Future of Investors, Jeremy J. Siegel, Crown Books, 2005.
6. What Works on WallStreet, James P. O’Shaughnessy, Mc Graw Hill, 1998.
Rekomendasi Bacaan
1. Beating the S&P with Dividends, Peter O’Shea, et al, John Wiley & Sons, Inc., 2005.
2. Stocks for the Long Run, Jeremy J. Siegel.
3. The Intelligent Investor, Benjamin Graham, 1946.
4. Triumph of the Optimist: 101YearsofGlobal Investment Return,Elroy Dimso, et al, Princeton
University Press, 2002.
How to bottom-fish for stocks
Here are some calculations to help you decide when the risk of buying a stock is worth it. If you'd rather not attempt the math, don't worry -- I'll do some of it for you.
By Jim Jubak
Tired of trying to figure out if the Jan. 22 low was the bottom for stocks? Whether the recent rally will hold or turn into a massive bear trap? Whether to buy now or wait until, well, until who knows when?
Today, I'm going to put you out of your misery and tell you when it's time to buy.
No, I'm not going to call a bottom for the stock market as a whole. (Cue the boo birds.) I don't think anyone is in a position to do that. What I'm going to do instead is show you how to calculate a fair-value price for an individual stock and how to use that to figure out when to buy. This method won't tell you when a stock has hit its absolute bottom, but it will tell you when the price is low enough and the potential return high enough to justify the risk of getting in too early.
It's not about calling a bottom but learning how to bottom-fish.
As guinea pigs, I'm going to use the stocks I picked in my Jan. 29 column, "10 stocks to buy after the bloodbath." And don't worry if you see this column veering toward the dreaded land of Math. I'll do all the hard work and give you fair-value prices for each of these 10 stocks at the end of the column without any heavy lifting on your part.
2 key numbers
The simplest method for figuring out a fair value for a stock starts with the company's projected earnings for the next year and some estimate of a company's appropriate price-to-earnings, or P/E, ratio. Multiply the two and you've got what the stock should be worth in a year.
For example, Wall Street analysts, on average, expect Chevron (CVX, news, msgs), one of my 10 stocks for after the bloodbath, to earn $9.33 a share in 2008. Using the Feb. 15 P/E ratio of 9.4, a fair value for Chevron shares is $87.70. That's above the Feb. 15 close of $83.60 but only about 5% above that price. Holding for the rest of 2008 to make 5% (plus dividends), which is by no means guaranteed in a risky stock market and a slowing economy, isn't my idea of a great investment.
· A bad market? You ain't seen nothin'
(A target price is different from fair value, in my opinion, because a target price takes into account market conditions, including investor sentiment and momentum. So a target price can be, for periods of a year or less, above or below fair value. You can make money, for example, buying above a fair-value price if the stock market is in a strong bull rally.)
Resting on assumptions
Of course, this method is only as good as the two data points that go into it. The Wall Street earnings consensus can be wrong. In my example, though the average of the analyst estimates is $9.33 a share, the high is $10.75, and the low is $7.85. Somebody's wrong.
Or maybe the P/E ratio is out of line. Chevron trades at a P/E ratio of 9.4 now, but over the past 10 years it has traded at a P/E ratio as low as 7.8 and as high as 76.6.
Narrowing it down
That range is too broad to be very useful. To turn it into a number that means something, I'll need more-exact numbers for 2008 earnings and an end-of-the-year P/E ratio. At this point, I'd say the current P/E ratio for Chevron is too low. It lags the industry average multiple (or P/E ratio) because the company has had difficulty in getting new production on line. That looks ready to move up to the industry average of 11.1 by 2009.
For 2008, a transitional year, I'd use a P/E ratio halfway between the current 9.4 multiple and the future 11.1, which would be 10.25. I'd also say that, even with a global slowdown, oil prices will average at least $80 a barrel in 2008. Because the global slowdown will take some profit from the company's refining and gasoline-retailing businesses, however, I'd put my earnings estimate at, say, $9.40 a share.
You can use my simple Excel tool to fine-tune this target price. Plugging in those values gives me a price of $96.35, a 15.25% gain from the Feb. 15 closing price.
The reason it's so important to make these two numbers as accurate as possible is because they're the only inputs, so your final price calculation depends on the accuracy of these two numbers. For example, if Chevron's production plans slip and some of the new oil production that was supposed to take place in 2008 actually winds up in 2009, that will have a huge effect on the value generated by this calculation.
Looking further into the future
As I result, I'd say it's a good back-of-the-envelope calculation for a year ahead or less, but it doesn't really give you a value for a stock that reflects its long-term prospects.
To calculate the long-term fair value of a stock, you've got to put time back into the equation and include more than just one year's results. The standard method for doing this is called discounted cash flow, abbreviated to "DCF" in the formula below.
Here's the math:

CF = cash flow
CF1 = first-year cash flow
r = discount rate
(For cash flow in this calculation, use free cash flow, which is operating cash flow minus capital expenditures. For the discount rate, use the company's weighted average cost of capital, an average of the cost of equity and debt capital. A good default value today is about 10%, which is the yield on the 10-year Treasury note, about 4% now, plus a 6% risk premium).
Less risky companies show a lower discount rate. Johnson & Johnson (JNJ, news, msgs), for example, I'd peg around 7.7%. Waters (WAT, news, msgs), a smaller and riskier company, I'd put at 9.5%.
The math looks daunting, I'd agree. But don't worry if it's all Greek to you: I'll give the fair values I calculated for the "after the bloodbath 10" at the end of this column, so you don't need to do any of this math yourself.
First, the concepts
But I think it is important that you understand the concepts behind this formula. It's actually common sense.
Companies that can generate more cash flow in the future are more valuable today. Take a company -- or any other investment -- that will generate $100 in cash flow per share a year from now (CF1) in my formula. How much would you be willing to pay today for that future cash flow? The formula says that for a company that generated $100 in cash flow at the end of one year and where it cost the company 10% to raise its capital, the present value of that investment would be $100/(1+0.1), or $90.90. That's how much you'd be willing to pay today for that cash flow at the end of a year.
Raise the per-share cash flow in my example to $120, and the present value becomes $109. Companies that pay less for their capital, either because they're less risky or because interest rates in general are lower, are also more valuable. Lower the cost of capital to 6% from 10% in my example, and the present value goes up to $94.34 from $90.90. The company with $120 in cash flow is worth $113.21 instead of $109.
Wimpy's hamburger finances

Wimpy's discounted cash-flow analysis: "I'll gladly pay you Tuesday for a hamburger today."
Of course, any company you invest in will produce cash flows for more than just one year. (At least you hope so.) So the formula includes cash flow from those years (CF2, CF3, etc.), too, but since they're further away, it gives those future cash flows a lower present value. (Popeye's friend Wimpy used a discounted cash-flow analysis when he said, "I'll gladly pay you Tuesday for a hamburger today.")
To use this formula, it's usually sufficient to use five years of cash flows and then calculate some perpetuity return for the years beyond that.
If you want to do the math yourself, you can use the NPV (net present value) function in Excel and the data on the "financial results" of our stocks page and in standard data sources such as the Standard & Poor's stock reports offered by most online brokerage companies. (S&P includes a weighted average cost of capital in the valuation section for most of the stocks it covers.)
Calculations for 10 stocks
If you don't want to do the math, now or ever, here are my calculated fair-value estimates for each of the "after the bloodbath 10." I've included the stock's closing price on Feb. 15 and the difference between this fair value and the current stock price.
| | |||
| Stock | Fair value | Feb. 15 price | % below fair value |
| | | | |
| $98 | $89.11 | 9.1% | |
| $93 | $83.60 | 10.1% | |
| $44 | $31.06 | 29.4% | |
| $238 | $219.39 | 7.8% | |
| $110 | $96.17 | 12.6% | |
| $80 | $58.23 | 27.2% | |
| $123 | $115.35 | 6.2% | |
| $152 | $147.98 | 2.6% | |
| $105 | $84.08 | 19.9% | |
| $76 | $60.37 | 20.6% | |
Which are buys?
It depends on your read of the risk of the individual stock and of the stock market as a whole at the time of the purchase. The size of the discount you want from any stock will depend on your assessment of the risk in the shares, in the economy and in the stock market. And that's still subjective.
So, no, this exercise hasn't given you some absolute buy or sell signal for any stock. But it does help you know when it might be worth taking the risk and pulling the trigger.
I've started two new threads on my MSN Money message board. "Are these prices insane?" asks for comments on my analysis of these 10 stocks, and "Got gas?" publishes fair values for the five natural-gas stocks I wrote about in my Feb. 15 column
So, no, this exercise hasn't given you some absolute buy or sell signal for any stock. But it does help you know when it might be worth taking the risk and pulling the trigger.
I've started two new threads on my MSN Money message board. "Are these prices insane?" asks for comments on my analysis of these 10 stocks, and "Got gas?" publishes fair values for the five natural-gas stocks I wrote about in my Feb. 15 column
"Profit when oil have-nots crash": On Feb. 6, Devon Energy (DVN, news, msgs) reported that fourth-quarter earnings had grown by 35% from the fourth quarter of 2006. That more than reversed the 5% drop in the third quarter of 2007 from the corresponding quarter of 2006.
But with Devon Energy the story is ultimately about production and the rate at which the company can develop its new finds. And there, too, the story was good. Total production increased 10% last quarter over the fourth quarter of 2006, largely on increased volumes of natural gas from the company's holdings in the Barnett and Woodford shale regions of Texas.
The big increase in production, however, will come from new finds in the Gulf of Mexico and in the deep waters off Brazil. Total drilling prospects there are 5 billion to 11 billion barrels of oil equivalent. Exploratory drilling is set to ramp up in those areas, which means rising costs. Capital spending rose to $6.5 billion in 2007, but operating cash flow climbed 21% to a record $7.3 billion. The company's net debt-to-capital ratio climbed to a still low 23%.
As of Feb. 19, I'm raising my target price on Devon Energy to $108 by December 2008 from my prior target of $102 by December 2007. (Full disclosure: I own shares of Devon Energy in my personal portfolio.)
MACD
You can make money as a swing trader by going contrary to the weekly and daily MACD signals.
But not for long.
I generally place MACD on almost every chart I discuss in this newsletter. It is important for the technical analyst to derive multiple confirming messages for optimal trading. This approach involves synthesizing such tools as trendlines, support and resistance, price patterns, moving averages, candlesticks and indicators such as RSI, Stochastics and MACD to see if they confirm or contradict one another. If, however, I had to choose only one indicator, my desert island favorite, it would be MACD.
Gerald Appel created Moving Average Convergence Divergence (MACD). In today's issue I want to discuss the construction of MACD and its buy and sell signals.
The swing trader can best use indicators for decision making when he or she has a clear understanding of their underlying design and assumptions. (I like to refer to this understanding process as "going inside the black box" -- hence the title of this newsletter section.) Those who fail to do this often end up applying the indicators mechanically, which usually leads to costly swing trading errors. In this issue I'm going to discuss MACD construction and the synthesis of weekly and daily MACD trading signals. In the next two newsletters I will discuss MACD divergence, the MACD histogram, and how you can use these tools to supplement your basic MACD analysis.
Below you'll find a weekly S&P 500 chart on which I've placed three moving averages: the 40-week, 12-week and 26-week. All of these are exponential moving averages (E.M.A.) -- a calculation method that weights recent price activity more heavily than distant data. (An E.M.A. is in contrast to the simple moving average, or S.M.A., which weights all prices equally).

The 40-week moving average was chosen as a long-term descriptor of trend. The chart shows a long decline, with the S&P below a downward sloping 40-week moving average, a bear market "signature."
As noted above, MACD is an abbreviation for "Moving Average Convergence Divergence." The MA part of the name stands for "moving average." Moving averages are trend following tools that have the power to keep the swing trader on the right side of the trade.
The CD stands for "convergence" and "divergence," or the phenomenon of the moving averages coming together and spreading apart. During a period of strong trend, the two MACD lines will grow further apart (divergence). During sideways consolidation, they will converge or come closer together, often crisscrossing one another several times. MACD is both a trend following tool and a momentum indicator that shows acceleration and deceleration of a trend.
The MACD line itself is constructed from two moving averages -- a 12-period, or faster, moving average and a 26-period, or slower moving average. The computer subtracts the 26-period moving average from the 12-period and creates a single line. I call this the "main line." The next calculation performed is the computing of a nine-period E.M.A. of the main line. This line is called the "trigger line," and it is from the interaction of these two lines that certain types of trading signals are generated.
Note the scale on the left-hand side of MACD. On this scale is a "0" line. The zero line is crossed bullishly when the faster 12-period underlying moving average crosses over the slower 26-period moving average.
In using MACD, you should always take great care to synthesize the weekly and daily indicators. I have seen little information on how to do that in books or on the web. As such, here are my conclusions on that important topic...
Weekly MACD should be looked to as describing the trend of the stock from a "trading perspective." When a stock or index is below a downward sloping 40-week moving average, then for the vast majority of time, MACD will be on a sell signal. During periods of countertrend rally, however, there are times when the weekly MACD will issue a buy signal. Even though the primary trend is down, these opportunities should be traded from the long side. (The opposite of these principles is true when a stock or index is above an upward sloping 40-week moving average.)
Daily MACD should be used as the catalyst to enter and exit positions. When weekly MACD is on a sell signal, then fresh sell signals in daily MACD should cause the swing trader to take a short position (assuming other technical indicators on the chart such as trendlines and candlesticks support the trade, of course).
Since MACD is a trend following indicator, it will do a very good job of keeping you in the trade for almost the entire period in which it is profitable. When the daily MACD gives a buy signal, then short positions should be covered. You can then reinitiate a short position on the next MACD sell signal.
One limitation of MACD is that it works very poorly during periods of price consolidation. When MACD begins to generate numerous trading signals back and forth in a short period of time, its buy and sell advice should be ignored.
Below you'll find a one-year daily chart for the S&P 500. As we have seen, this particular weekly chart has given only three trading signals -- two sells and one buy. The daily chart, when used in conjunction with the weekly, gives a total of 12 signals in the year. I describe each of these below.

- Sell short at point #1, as both the weekly and daily MACD give a sell signal.
- Cover your short. Do not go long, as weekly MACD is on a sell.
- Initiate a new short position.
- Cover your short. This is a nice rally, but weekly MACD remains on a sell. During this period, swing traders might search for strong stocks whose weekly and daily MACD charts give a buy signal.
- Initiate a new short position.
- Cover your shorts. Take long positions here, as both the weekly and daily MACD are now giving buy signals.
- Avoid using MACD as a trading signal because of the whipsaws.
- The MACD lines now begin to diverge. Take the sell signal.
- Cover shorts.
- Initiate a new short position.
- Cover shorts.
- MACD has almost rolled over and given a fresh sell signal, but not quite.
By effectively using MACD to your advantage, you can develop a profitable trading system. And when you combine MACD with several other technical analysis tools, the results can be even more profitable.
What Would Buffett Buy?
S&P's latest screen tracking the Berkshire bigwig's investing criteria uncovers 60 attractive names
Warren Buffett has made his reputation as the World's Greatest Investor by taking the longer view—buying quality stocks with good earnings power and hanging on through bull and bear markets. During the past few decades, he has parlayed some well-chosen core holdings into an unparalleled record, not to mention an enormous personal fortune.
The stock of Buffett's company, Berkshire Hathaway (BRKA), topped the broader market in 2007 and 2006 after underperforming for a few years. Longtime
How does he do it? Author Robert Hagstrom tried to compile Buffett's key investing strategies in his 1994 best seller, The Warren Buffett Way: Investment Strategies of the World's Greatest Investor. With Hagstrom's book as a source, Standard & Poor's Portfolio Services analyst David Braverman put together a stock screen that picks companies using criteria similar to those that fit the legendary investor's growth-oriented style. S&P updates this screen on a semiannual basis, during February and again in August.
HOW THE SCREEN WORKS
Over the years, the screen has put in a pretty good performance itself. From Feb. 13, 1995, through Jan. 17, 2008, the screen had an annualized return of 14.9%, vs. 8.2% for the S&P 500. In 2007, the screen stocks gained 15.7%, vs. 3.5% for the S&P 500. (All results reflect price appreciation only.)
It should be noted that these are not necessarily stocks that Buffett has bought or personally plans to buy. The list reflects only the criteria that Buffett has emphasized in the past.
Each time the screen is run, the stocks that were previously returned are "sold," and the new stocks are "purchased." There is 100% turnover each time the stock screen is run. The full criteria for this screen:
1. Owner earnings (cash flow less capital expenditures) above $50 million (changed in February, 2006, from $20 million)
2. Net margins of at least 15% for the trailing 12 months
3. Return on equity of at least 15% the previous quarter and in every year for the last three years
4. Retained earnings that have grown less than the market capitalization, on an absolute basis, in the last five years
5. Looking five years into the future, projected cash flow per share greater than the current market price for each stock (discounted to the present using the 30-year Treasury yield); this helps remove overpriced stocks from the list
6. Market capitalization of $500 million or more